Friday, March 18, 2016

Ini Penyebab dan Gejala Kista Ovarium


gejala dan penyebab kista ovarium


Penyebab dan Gejala Kista Ovarium, Kista ovarium merupakan sebuah penyakit yang berbahaya karena merupakan tumor jinak  berupa kantung adnormal berisi cairan atau setengah cair yang tumbuh dalam indung telur. Menurut DEPKES RI Kista ovarium merupakan salah satu tumor jinak ginekologi yang paling sering dijumpai pada wanita di masa reproduksinya.


Menurut Wiknjosastro: 2005, kista ovarium adalah tumor ovarium yang bersifat neoplastik dan non neoplastik. Kista ovarium merupakan suatu tumor baik kecil maupun besar, kistik atau padat, jinak atau ganas yang berada di ovarium. Dalam kehamilan tumor ovarium sering dijumpai adalah kista termoid, kista coklat atau kista lutein. Tumor ovarium yang cukum besar dapat menyebabkan kelianan letak janin dalam rahim atau dapat menghalang-halangi kepala masuk kedalam panngul.

Menurut Smeltzer: 2002, kista ovarium adalah tumor jinak yang diduga timbul dari bagian ovum yang normalnya menghilang saat menstruasi, asalnya tidak teridentifikasi dan terdiri atas sel-sel embrional yang tidak berdierensiasi, kista ini tumbuh lambat dan dimukan selama pembedahan yang mengandung material sebasea kental berwanra kuning yang timbul dari lapisan kulit. 

Kita ovarium adalah tomur ganas yang berada dibagian ovum, sehingga membentuk kantung kecil berisi cairan yang berkembang di ovarium. Kista ovarium dibagi menjadi empat yaitu kista folikuler, kista corpus luteum, kista teka lutein dan polikistik kista.

Angka kejadian kista sering terjadi pada wanita berusia produktif. Jarang sekali dibawah umur 20 tahun maupun diatas 60 tahun. Kista ovarium ditemukan hampir semua wanita premenopause dan pada 18% wanita post menopause. Insiden yang sering terjadi pada usia 30-54 tahun dan yang paling tinggi adalah wanita dngan kulit putih (Wiliam, 2007).

Menurut Dr. Pribakti, Sp.OG dari RS yang ada di Banjarmasin, kista ovarium sering dijumpai pada wanita usia reproduksi dan 95% jinak. Sebagian dari kista itu menetap atau bahkan menghilang tanpa pengobatan atau operasi. Lalu Dr. Hardi Susanto, spesialis kandungan dan kebidanan dari RS di Jakarta, mengatakan 20-30% kista berpotensi menjadi ganas.


1.      Gangguan pembentukan hormon
Kista ovarium disebabkan oleh 2 gangguan hormon yaitu pada mekanisme umpan balik ovarium dan hipotalamus. Estrogen merupakan sekresi yang berperan sebagai respon hiprsekresi foikel stimulasi hormon. Gangguan keseimbangan hormon dapat berupa peningkatan hormon Luteinizing Hormon (LH) yang menetap sehingga menyebabkan ovulasi.

2.      Faktor psikologis
Faktor psikologis misalnya stress, depresi. Pola hormon sangat dipengaruhi oleh stress, sehingga menyebabkan jumlah hormon tidak terkendali/terganggu. Gangguan keseimbangan hormon dapat berupa peningkatkan  hormone luteinizing homon (LH) yang menetap sehingga dapat menyebabkan gangguan ovulasi (Liewellyn, 2001).

3.      Faktor genetik
Ada sebagian orang yang secara genetik lebih besar kecendrungan untuk menderita kista. Oleh karena itu jika dalam riwayat kesehatan keluarga ada beberapa orang ada yang menderita kista, maka mungkin bisa menyebabkan penyakit kista pada keturunannya.

4.      Penderita kanker payudara yang pernah menjalani kemoterapi (tamoxifen). Tamoxifen dapat menyebabkan kista ovarium fungsional jinak biasanya menyelesaikan penghentian pengobatan tersebut.

5.      Pengobatan infertilitas
Pasien yang dirawat karena infertilitas dengan induksi ovulasi dengan gonadotropin seperti colimphene citrate atau letrozole dapat mengembangkan kista sebagai bagian dari sidrom hiperstimulasi ovarium (Wiliam 2007).

6.      Gaya hidup yang tidak sehat
Gaya hidup tidak sehat dapat menyebabkan  terjadinya kista ovarium. Risiko kista ovarium fungsional meningkat dengan merokok. Resiko dari merokok mungkin lebih lanjut dengan indeks massa tubuh menurun. Selain itu di karenakan merokok, polaa makan yang tidak sehat seperti mengonsumsi lemak tinggi, rendah serat konsumsi zat tambahan makanan, konsumsi alkohol dapat meningkatkan resiko penderita kista ovarium. Pada wanita yang sudah menopause kista fungsional tidak terbentuk karena menurunnya aktivitas indung sel telur.

7.      Pemakai alat kontrasepsi hormonal
Wanita yang menggunakan alat kotrasepsi hormonal juga merupakan faktor resiko kista ovarium yaitu pada wanita yang menggunakan alat kontasepsi hormonal berupa implant. Akan tetapi wanita yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal pil cenderung mengurangi resiko untuk terkena kista ovarium.

gejala kista ovarium


1.      Gangguan haid
Gangguan siklus haid yang sangat pendek atau lebih panjang harus diwaspadai. Gangguan pada haid yang terjadi bisa berupa siklus haid yang tidak tentu, karena selalu berubah-ubah setiap bulannya. Gangguan haid yang lain juga bisa mengalami pendarahan pada saat di luar jadwal haid. Pendarahan yang terjadi juga tidak hanya sekali karena akan berbeda pada setiap wanita yang mengalaminya. 

2.      Nyeri panggul
Gejala penyakit kista ovarium yang akan terjadi nyeri di bagian panggul. Nyeri panggul biasanya berlangsung ketika masa haid dan juga bisa melebihi hingga masa haid selesai. Nyeri panggul akan terasa menyakitkan hingga banya wanita yang minum obat untuk mengatasi rasa nyeri pada saat haid.

3.      Sering buang air kecil
Sering buang air kecil bukan pengaruh cuaca atau pun infeksi saluran kemih bisa menjadi suatu gejala kista ovarium. Sering buang air kecil yang terrjadi sam halnya ketika setelah mengonsumsi minuman yang mengandung kafien.

4.      Gangguan pencernaan
Gejal penyakit kista ovarium juga akn dirasakan pada sistem pencernaan tubuh. Karena posisi atau letak rahim yang tidak terlalu jauh dengan sistem pencernaan maka akan membuat gangguan pencernaan pada gejala penyakit kista ovarium.

5.      Perut kembung
Perut kembung dikarenakan perut banyak gas di dalamnya, karena tidak dapat di olah dengan pada saat adanya kista ovarium. Selain itu gejala penyakit kista ovarium akan membuat wanita yang mengalaminya akan lebih cepat kenyang walaupun hanya makan sedikit.

6.      Pusing kepala
Pusing kepala serta tubuh akan mudah lemas, akan terjadi bersamaan pada gejala penyakit kista ovarium.

Untuk mengatasi kista ovarium yang baik adalah pada saat kista masih dalam ukuran kecil, sehingga akan lebih mudah dan lebih cepat untuk penyembuhannya. Cara mengatasi kista ovarium adalah sebagai berikut:

1.      Teripang
Teripang dapat digunakan untuk mengatasi atau mengobati kista ovarium. Teripang merupakan hewan laut yang kaya akan gizi dan vitamin yang baik untuk menyembuhkan penyakit kista ovarium. Teripang banyak dijual di pasar tradisional, tetapi jika tidak dapat mengolahnya bisa dengan menggunakan teripang yang sudah siap pakai yang telah di ekstrak.

2.      Daun dewa
Daun dewa selain dapat digunakan untuk penurunan kolestrol, juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit kista ovarium bisa dengan membuat daun dewa di rebus yang juga di tambahkan beberapa buah dewa yang telah bersih yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kista ovarium untuk di konsumsi setiap hari.

3.      Kulit manggis
Kulit manggis dan juga daun sirsak yang di jadikan minuman, dengan proses pengolahannya di rebus. Maka akan bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit kista ovarium. Kista yang masih pada tahap awal yang bagus jika di obati dengan menggunakan air manggis dan juga daun sirsak. Karena tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkan nya jika ddi komsumsi deengan rutin.

4.      Kunyit putih
Kandungan anti inflamasi yang di miliki oleh kunyit putih baik untuk menyembuhkan penyakit kista ovarium. Karena kunyit dapat menjadi anti radang, anti kanker serta dapat mengatasi rasa nyeri secara alami jika di gunakan. Untuk mengolah kunyit putih sebagai obat maka bisa dengan merebus nya lalu di tambahkan dengann sedikit madu agar mengatasi rasa mual akibat rasa yang di miliki oleh kunyit putih.

Selain obat alami diatas bisa juga menggnakan medis seperti:

1.      Ultrasonografi (USG)
Cara ini digunakan untuk mendeteksi kehadiran kista ovarium dan mengetahui ukurannya. Selama pemeriksaan, dokter akan menempatkan alat USG pada perut Anda dan isi rongga perut atau panggul Anda bisa terlihat pada tampilan layar monitor.

2.      Tes darah
Dokter akan menyarankan Anda untuk menjalani tes darah jika hasil USG menunjukkan bahwa kista yang Anda miliki berbentuk padat atau berisiko tinggi terkena kanker ovarium. Melalui tes ini, dokter akan menguji kadar protein yang sering disebut kanker antigen 125 (CA-125) pada darah Anda. Alasannya karena kadar CA-125 bisa meningkat pada wanita yang menderita kanker ovarium. Namun tidak semua peningkatan CA-125 disebabkan oleh kanker ovarium. Terdapat kemungkinan disebabkan oleh penyakit radang panggul, endometriosis, atau fibroid rahim. Oleh karena itu, kesimpulan seseorang menderita kanker ovarium tidak bisa berdasarkan kadar CA-125nya saja.

3.      Laparoskopi 
Melalui sebuah sayatan kecil, dokter akan memasukkan alat laparoskop yaitu selang yang ujungnya dilengkapi lampu dan kamera. Sebelum memulai metode pembedahan ini, Anda akan menjalani proses pembiusan. Dengan laparoskopi, dokter bisa melihat langsung rongga panggul dan organ-organ reproduksi serta keabnormalan jika ada.

Tidak semua kista memerlukan penanganan medis. Ada jenis kista yang dikenal sebagai ‘kista fungsional’. Kista fungsional berkaitan dengan siklus menstruasi dan umumnya tidak berbahaya. Kista jenis ini dapat hilang dengan sendirinya dalam dua hingga tiga siklus menstruasi. Dengan pemeriksaan yang lengkap, dokter dapat mencari tahu jenis kista yang Anda alami dan risikonya untuk berkembang menjadi kanker ovarium. Umumnya, kista akan ditindaklanjuti secara medis jika ukurannya besar, menyebabkan gejala pada penderitanya atau jika dokter merasa kista berisiko bersifat kanker.

Admin
Kesehatan Pria Dan Wanita Updated at: 6:51 AM